Baliho Kader Partai Demokrat Asal Bali Lecehkan SBY



Baliho Kader Partai Demokrat Asal Bali Lecehkan SBY

Adalah hal yang masih jamak terjadi di negeri ini, di mana demi menduduki sebuah jabatan publik, para politikus harus menguras begitu banyak energi dan materi. Integritas serta kemampuan seorang calon - baik itu calon pemimpin kepala daerah maupun calon aggota legislatif - yang sudah teruji, tidak serta-merta membuatnya dipilih oleh rakyat.
Politik adu gagasan, politik adu prestasi, atau politik adu rekam jejak belum menjadi sebuah tradisi di negeri ini. Para politikus yang begitu ambisius itu lebih cenderung menggunakan cara-cara berpolitik kotor seperti memainkan isu SARA, terlibat dalam politik uang, serta politik identitas yang mencederai nilai-nilai demokrasi itu sendiri.
Lihatlah ulah sebagaian elite politik saat ini. Mereka abai terhadap kewajiban mereka sebagai warga negara untuk menjunjung tinggi persatuan, kesatuan, dan keharmonisan bangsa. Mereka korbankan tali silaturahmi sebagai sesama anak bangsa yang selama ini terjalin dengan baik demi kepentingan pribadi, kelompok, dan partainya.
Di mata mereka, rakyat hanya seperti sebuah jembatan yang mengantarkan mereka dari kehidupan mereka yang biasa-biasa saja kepada sebuah kehidupan yang penuh dengan kenikmatan dunia. Setelah mereka tiba di kehidupan yang baru itu, kehidupan yang bergelimang harta itu, mereka segera lupa kepada rakyat yang memilih mereka.
Rakyat hanya menjadi korban. Korban nafsu ingin berkuasa para elite politik yang sudah tidak terbendung itu. Korban ketamakan para politikus yang tujuan utamanya bukan untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk memperjuangkan hak-hak konstituennya, namun untuk menggarong uang rakyat, untuk menguras habis uang negara.
Pada hari-hari ini, hingga beberapa bulan ke depan, rakyat akan disuguhi akrobat politik para calon anggota legislatif di seluruh negeri. Mereka yang sebelumnya hidup cuek terhadap sekelilingnya, tiba-tiba saja seakan begitu peduli. Mereka yang selama ini tidak pernah bersosialisasi, seketika berubah menjadi sosok yang sangat ramah.
“Tompu burju.” (tiba-tiba saja baik). Begitu kami menamai keadaan tersebut. Para caleg yang namanya kini sudah terdaftar di KPU sebagai peserta Pemilu, tiba-tiba saja SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Mereka melakukan pendekatan tanpa henti kepada masyarakat. Mereka rajin menggelar berbagai acara dengan tujuan menyampaikan maksud politiknya.
Pun berbagai poster, bendera partai, serta baliho dengan berbagai ukuran di sepanjang jalan raya terpampang hingga ke sudut-sudut negeri. Kehadiran berbagai jenis alat peraga kampanye itu, menjadi penanda bahwa pesta rakyat akan segera digelar. Foto-foto raksasa para caleg terpampang di baliho-baliho tersebut yang senantiasa menyenyumi setiap mereka yang melintas.
Begitulah salah satu cara mereka untuk memperkenalkan diri, untuk mengambil hati rakyat. Apakah senyum merekah para caleg di baliho itu tulus atau tidak akan kelihatan ketika mereka terpilih nanti. Jika mereka tulus bekerja dan berjuang untuk rakyat, itu artinya bahwa senyumnya tulus.
Namun sebaliknya, jika mereka segera lupa kepada rakyat yang pernah mereka senyumi sekalipun hanya lewat baliho, itu artinya bahwa tujuan mereka hanya demi kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan rakyat.
Berbicara tentang baliho caleg yang saat ini banyak kita dapati di berbagai tempat, ada sebuah baliho caleg DPRD Provinsi Bali Dapil 5 Buleleng asal Partai Demokrat yang diunggah di media sosial, yang saat ini sedang ramai diperbincangkan oleh warganet. Baliho yang satu ini memang terlihat unik, lain dari baliho caleg yang lazim kita temui selama ini.
Biasanya, dalam baliho seorang caleg akan ditulis visinya sebagai caleg, foto diri sang caleg, logo partai, nomor urut, serta foto capres yang diusung oleh partainya, atau foto ketua umumnya. Sebutlah caleg dari PAN misalnya, di luar fotonya, maka ia akan menampilkan foto ketua umumnya, Zulkifli Hasan, serta foto capres yang diusung oleh PAN, Prabowo Subianto.
Nah, pada baliho Budi Hartawan, caleg nomor urut 12 asal Partai Demokrat itu, tidak memuat foto SBY, ketua umumnya itu. Tidak pula ia memuat foto Prabowo Subianto, capres yang diusung oleh Partai Demokrat. Kader SBY itu justru memuat foto Jokowi dengan jargon yang cukup menarik, “Presidenku Jokowi. Pilihanku DPRD Provinsi Bali Budi Hartawan.”
Kurang menjual apa seorang SBY. Ia adalah mantan Presiden Indonesia. Selama 10 tahun ia menjadi nahkoda bangsa ini. Menurut Ferdinand Hutahaean dan Andi Arief, pendekar kardus itu, bahwa rakyat masih merindukan SBY. Mereka menilai bahwa rakyat Indonesia hidup lebih adil dan lebih sejahtera di era pemerintahan SBY.
Lalu kenapa Budi Hartawan lebih memilih Jokowi? Apakah Budi Hartawan tidak pernah diberitahu oleh Ferdinand dan Andi Arief tentang segala pencapaian Big Boss mereka di Partai berlogo mercy itu? Kenapa ia tidak menjual segala prestasi mantan presiden keenam itu? Jika tidak senang dengan SBY misalnya, sekalipun itu sangat tidak mungkin, Budi Hartawan kan bisa mencantumkan foto Prabowo.
Menurut saya, Budi Hartawan pasti sudah diberitahu tentang segala pencapaian SBY selama 10 tahun memerintah. Ia juga mungkin sudah diberitahu bahwa capres yang disusung oleh Partai Demokrat bukan Jokowi, namun Prabowo. Tapi, caleg DPRD Bali itu mungkin tidak percaya dengan apa yang diberitahu kepadanya tentang SBY.
Fakta yang ia lihat di lapangan yang berbeda jauh dengan apa yang selama ini kerap disuarakan oleh Ferdinand dan Andi Arief tentang SBY; seperti banyaknya proyek mangkrak peninggalan SBY, banyaknya uang negara yang terkuras untuk subsidi BBM, banyaknya kader Demokrat yang terjerat korupsi sementara jargonnya “Katakan tidak pada korupsi!” rendahnya nilai tawar Indonesia di mata dunia internasional, mungkin menjadi pemicunya.
Fakta tentang berbagai kegagalan ketua umumnya tersebut, mungkin membuatnya tidak yakin untuk menjual SBY. Mungkin, itu pula yang menjadi penyebab utama kenapa ia lebih memilih menjual Jokowi. Ia mungkin melihat bahwa pencapaian Jokowi selama 4 tahun memerintah lebih real dan lebih dirasakan masyarakat ketimbang yang dikerjakan SBY.
Tetapi, sebaik apapun seorang Jokowi, dan seburuk apapun seorang SBY, ia tetap harus mendahulukan SBY sang ketua umumnya itu. Sebab dengan mencantumkan Jokowi di balihonya, Budi Hartawan telah melecehkan SBY. Ia telah merendahkan martabat SBY.
Sumber : Seword
Share This :



sentiment_satisfied Emoticon