Kualat? Dulu Fadli Zon Menakar Keimanan TGB, Sekarang Prabowo Ditantang Salat aja Bingung?




Memang yang namanya keimanan itu urusan manusia dengan Tuhan, kita sebagai manusia gak boleh merasa bisa menakar keimanan seseorang. Tetapi sudah menjadi rahasia umum, saat ini ada kelompok-kelompok yang menganggap diri sebagai orang yang paling beriman diantara yang lainnya.

Di pilpres ini yang kita lihat begitu sarat dengan selentingan isu agama yang begitu deras. Sudah menjadi rahasia umum, perebutan suara rakyat dengan pemeluk agama mayoritas Islam membuat semua-semua dikaitkan dengan agama Islam.


Jokowi sendiri pernah dikatakan bahwa ia adalah keturunan Tionghoa yang beragama Kristen, ini adalah salah satu cara untuk menggembosi suara Jokowi. Meskipun seharusnya agama gak dijadikan patokan memilih pemimpin dalam pemerintahan, tetapi mau diakui atau tidak di Indonesia masih banyak yang anti jika harus dipimpin oleh orang yang beda agama. Mungkin meskipun dipimpin oleh orang bodoh, yang penting seiman gak masalah.

Isu lainnya yang juga sudah menjadi rahasia umum adalah, kubu Jokowi dianggap kurang Islami, meskipun wakil yang dipilihnya adalah seorang ulama. Berbeda dengan kubu Prabowo, yang dianggap kubu yang paling Islami, bahkan Prabowo dan Sandi pun dilabel sebagai capres serta cawapres pilihan dari ulama.

Kita lihat di media sosial, siapa saja yang berada di kubu Jokowi meskipun dia adalah ulama, tetap saja tidak dihormati dan kadang tak luput dari caci, contohnya adalah M. Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang yang menyatakan dukungannya terhadap Jokowi pun tak luput dari sindiran. Bahkan ada salah satu anggota DPR yang kerap vocal yaitu Fadli Zon secara tidak langsung atau seolah-olah mampu menakar keimanan dari Tuan Guru Bajang.

"Itu kan terserah siapa pun ya, hak masing-masing. Tapi di situ dapat menakar tingkat keimanannya ya. He he, becanda," ujar wakil ketua DPR itu sambil tertawa kecil di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (6/7).


Pernyataan dari Fadli Zon di atas tentu saja menggambarkan kekecewaannya terhadap Tuan Guru Bajang yang dulu digadang-gadang oleh PA 212 sebagai capres atau cawapres. Tuan Guru Bajang yang dulu dipuja-puja ketika belum menyatakan dukungannya pada Jokowi, namun setelah menyatakan dukungannya pada Jokowi langsung tak dihormati keulamaannya.

Dari contoh kejadian tersebut akan menimbulkan asumsi bahwa kadar keimanan menurut kubu Prabowo dilihat dari pilihan politiknya, bukan dari ilmu agama yang dimiliki, atau dari menaati perintah-NYA.

Saat ini, ketika Prabowo ditantang Salat oleh mantan kader Gerindra yang dulu pernah berjuang untuknya di pilpres 2014, orang-orang yang dulu kerap merasa membela agama dan ulama dalam acara 212 justru blingsatan. PKS, partai yang mengganggap dirinya partai dawahpun seperti kebakaran jenggot.


"Tidak elok menilai dan membandingkan kualitas keimanan seseorang dengan orang lain karena, menurut kami, itu hak prerogatif Tuhan," kata Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin seperti yang dilansir detik.com, Selasa (11/12/2018).

"Menurut kami, soal keimanan dan keislaman itu urusan pribadi antara dia dengan Tuhan, bukan untuk dipertontonkan kepada publik. Kita hanya bisa melihat dan menilai seseorang dari apa yang dia lakukan dalam praktik politiknya," tuturnya.

"Sebaiknya mengajak publik untuk fokus pada isu-isu substansial kebangsaan. Kami kira publik sudah bosan dengan isu-isu gimik yang hanya memicu kegaduhan yang tidak perlu," lanjut Suhud.

"Jika Ijtimak Ulama mendukung Pak Prabowo untuk menjadi capres, itu pasti dengan pertimbangan bahwa Pak Prabowo dianggap oleh para ulama bisa menciptakan kemaslahatan bagi rakyat," tuturnya.

Dari ungkapan PKS tersebut justru menunjukkan kepanikannya, bahwa apa yang disampaikan La Nyalla adalah benar adanya. Sedangkan kita tahu, yang namanya salat itu wajib bagi umat muslim, anak SD saja udah bisa salat, jadi apa yang harus ditakutkan?

Sebenarnya saya secara pribadi setuju dengan pernyataan PKS bahwa keimanan adalah hak pribadi dengan Tuhan, tetapi masalahnya, cobalah berkaca, di media sosial banyak simpatisan PKS seperti Jonru yang kerap menganggap diri paling beriman dan paling benar. Dan saya juga setuju, kalao seharusnya kita fokus pada isu-isu substansial kebangsaan dalam pilpres ini, tetapi pada kenyataannya, Jokowi justru adalah orang yang sering diserang oleh isu SARA, dari keturunan China hingga PKI. Jadi marilah kita berkaca dulu, gak usah panik. Udah ah, itu aja…

Share This :



sentiment_satisfied Emoticon