Pulang dari Argentina, Anies Ketakutan "Dikepung" Ganjar dan Emil



Pulang dari Argentina, Anies Ketakutan "Dikepung" Ganjar dan Emil

Pulang dari Argentina, Anies mendadak dicegat untuk ngopi bareng Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Setelah pencitraan murahan yang ia lakukan dan buang-buang uang rakyat di Argentina, Anies ditahan.
Wajah Anies begitu suram dan miris. Lihat saja tampangnya seusai menghabiskan uang rakyat. Katanya sih belajar. Tapi benarkah belajar?
Katanya sih Anies belajar di Argentina. Belajar mengelola pemerintahan yang baik. Bukankah Argentina sedang sulit juga?
Padahal orang ini terlihat sering jalan-jalan, tapi apakah benar bahwa ia belajar dari negara lain? Lihat dari pengakuan teman-teman di Jakarta, rasanya ketika Anies pergi, Jakarta jadi lebih baik karena diurus Sekda. Sekda jauh lebih beres ketimbang Anies. Lucu sekalibukan?
Orang ini diganjar oleh Ganjar dan disuruh duduk oleh Ridwan Kamil. Seolah-olah Anies ini dijepit. Pendukung Prabowo diperhadapkan dengan pendukung Joko Widodo. Dua orang yang padat karya, menghadapi orang yang padat lemak.
Selama ini kita sadar bahwa di Indonesia, sangat melimpah orang-orang yang bisa jadi guru bagi pendidikan politik dan birokrasi di Jakarta. Selama ini kita tahu bahwa ada sosok Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo yang sudah membuktikan kinerja mantapnya di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Anies ini tidak tahu diri. Dia tidak percaya sama orang Indonesia. Malah ke Argentina. Ketika ia pulang, ia langsung diganjar dan dikeroyok oleh Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Si petugas gunting pita dan gubernur bambu ini seolah-olah dinasehati…
“Wahai Pak Gubernur Magang, ngapain kamu jauh-jauh ke Argentina belajar birokrasi, padahal kita yang sudah jelas-jelas majukan kota dan provinsi ini ada di dekatmu. Jangan buang-buang uang rakyat!”
Kira-kira begitu pesannya. Terlihat dari mimik wajah Anies yang suram dan murung, seperti orang ketakutan. Kopi pahit itu terasa jauh lebih pahit. Kopi manis Anies itu rasanya amis. Sulit menyeruput kopi dalam keadaan tertekan seperti itu. Kalau tidak percaya, tanyalah Denny Siregar.
Terlihat betapa kecilnya aura Anies dikelilingi oleh pendukung Jokowi, Ganjar dan Ridwan Kamil. Ganjar Pranowo dengan kehebatannya mengelola Jawa Tengah, dan Ridwan Kamil dengan rekam jejak wali kota Bandung dan gebrakannya sebagai gubernur Jawa Barat.
Si gubernur bambu yang bukan gubernur babu ini benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan dua orang padat karya ini. Anies dikelilingi gubernur padat karya.
Ridwan Kamil adalah orang yang bisa membawa Bandung lebih bermartabat, dilirik lebih dibandingkan Jakarta. Ganjar Pranowo juga adalah orang yang luar biasa membenahi gubernur dengan baik. Ketimpangan dikerjakan. Penakluk Asyik dan penakluk Sudirman Said, ya itu orang-orangnya.
Kelas pesawat Anies pun kelas bisnis. Tapi apa yang dibawa pulang? Nihil. Jakarta tetap saja jelek. Jakarta tetap saja semrawut. Padahal itu ibu kota negara.
Naik pesawat bisnis itu seperti apa sih? Katanya bisa sampai tidur dan diberi selimut ya? Kursi nyaman bersama istri tercinta. Ngopi di Argentina? Kopi Indonesia jauh lebih terkenal coy.
Harga diri Anies hancur di bawah Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Semua terlihat dari postingan Ridwan Kamil alias Kang Emil bersama Gubernur Jawa Tengah dua periode, Ganjar Pranowo dan gubernur magang penggunting pita, Anies Baswedan.
Ia melakukan posting santai saja. Tidak ada tekanan. Tapi terlihat wajah Anies yang begitu tertekan. Kasihan. Jakarta tidak maju. Waring item masih saja ada dan malah membuat keadaan semakin kumuh. Waring ratusan juga man.
Melalui keteduhannya, ia membantai logika Anies. Membantai rekam jejak Anies. Mempermalukan seluruh 58 persen warga Jakarta tanpa sisa. Seolah mengatakan…
BELAJAR TUH SAMA KITA, NGAPAIN BUANG UANG RAKYAT KE ARGENTINA?
Argentina malah mendapatkan devisa dari Anies. Dasar gubernur bambu, masak tutup sungai pakai kelambu?

HIKAYAT 3 GUBERNUR.
Saya, Pak Anies Baswedan dan Pak Ganjar Pranowo ngopi-ngopi sehabis menerima award sebagai Provinsi2 terbaik dalam keterbukaan informasi publik. Menyeruput kopi sambil mendiskusikan Indonesia,
milenial, medsos yang harus damai, adem dan produktif. Jika kami bertiga aja rileks dan saling mengapresiasi begini, semoga followers nya juga sama ya.
Sering-seringlah mencari persamaan dalam perbedaan, jangan selau sibuk mencari perbedaan dalam persamaan. Karena Perbedaan itu rahmat dan Persatuan itu mulia.
Sumber : Seword
Share This :



sentiment_satisfied Emoticon