Kisah Ahok Terulang di Pilpres 2019, Aksi Demo Berjilid-Jilid Demi Bo-San atau Demi Bendera Tauhid?
Aksi damai yang katanya damai yang akan dilakukan pada hari ini, menjadi suatu gerakan yang sulit bisa dikatakan tidak ada unsur politik di dalamnya. Pasalnya gerakan ini, seperti yang diungkapkan oleh banyak para pengamat bidang politik, pilpres kali ini, strateginya mirip dengan strategi pemenangan mereka waktu pemilihan gubernur DKI waktu lalu.
Salah satunya dikatakan oleh Trubus Rahadiansyah, yang juga merupakan dosen Universitas Trisakti, seperti yang dilansir oleh breaking.news.co.id (1/11/2018), bahwa apa yang dilakukan oleh BPN Prabowo-Sandiaga, khususnya oleh Sandiaga. Dengan menggunakan strategi paradoks dengan pembalikan fakta. Contohnya mengenai harga-harga yang mulai naik, padahal realitanya tidak.
Kemiripan berikutnya adanya beberapa kali aksi damai. Yang waktu lalu menuntut Ahok supaya Ahok segera diadili atas kasus yang menjeratnya. Tapi kali ini, objek yang mereka tuju, meskipun tidak jelas siapa yang mereka tuntut, yang penting adalah aksi yang melatarbelakanginya. Dalam hal ini kasus pembakaran kalimat tauhid yang ada di kain hitam.
Kemudian mau berdalih tidak ada muatan politiknya? Tapi nyatanya pada aksi damai yang pertama, pada Jumat lalu, seperti yang dilansir oleh Liputan6.com (26/10/2018), terdengar seruan-seruan dari para peserta demo, ganti presiden, ganti sistem.
Apalagi untuk aksi yang kedua ini, nyata-nyata, sang juru bicara FPI, Slamet Maarif, melakukan konferensi untuk aksi pada hari Jumat ini, di rumah posko BPN Prabowo-Sandi. Hal itu terkonfimasi seperti yang dilansir oleh detik.news.com(1/11/2018). Tepatnya diadakan di Media Center Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang ada di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Mau berdalih lagi? Mendingan, gak usah berdalih. Langsung tegas saja, bahwa aksi yang katanya bela kalimat Tauhid yang dibakar, betul merupakan aksi dukungan nyata untuk mendukung pasangan Prabowo Sandiaga, yang kalau disingkat bisa dengan akronim, ‘Bo-San’.
Ini menjadi aksi yang kedua kalinya, setelah gerakan yang pertama sukses dilakukan pada Jumat lalu. Tapi tuntutan dari para pelaku aksi damai hari ini, sesungguhnya jauh dari masuk akal. Pasalnya, mereka mengajukan dua tuntutan sekaligus atas aksi damai mereka.
Dimana seperti yang dilansir oleh detik.news.com (1/11/2018), melalui juru bicara FPI, Slamet Maarif, bahwa tuntutan mereka, salah satunya adalah mendesak pemerintah supaya pemerintah segera mengakui bahwa bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid sebagai bendera tauhid.
Apakah FPI mau memaksa pemerintah supaya mengakui bendera selain bendera merah putih sebagai bendera yang sah ada di negara ini? Apakah mereka tidak membaca aturan yang ada di dalam undang-undang yang khusus mengatur tentang bendera dan segala aturan pakem yang ada di dalamnya?
Dimana jelas-jelas aturan tersebut tertuang di dalam Pasal 35 UUD 1945, kemudian diatur lagi tata cara penggunaannya dalam UU Nomor 24 tahun 2009, pasal 1. Tertulis jelas dalam ke dua pasal tersebut, bahwa Bendera Negara adalah Bendera Merah Putih. Dan jelas bahwa Bendera Merah Putih sebagai identitas bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Kemudian ketika mau dipaksa mengakui bendera hitam sebagai bendera Tauhid, akan mewakili apa bendera tersebut? Sebab harus jelas kedudukan dan posisi dari bendera tersebut untuk pemerintah bisa mengakuinya. Ketika dikatakan bendera Tauhid wewakili organisasi, organisasi yang mana yang memakai bendera Tauhid.
Bukankah yang memakainya jelas-jelas adalah HTI yang merupakan organisasi yang keberadaannya sudah dinyatakan illegal alias dilarang ada di negara ini?
Tuntutan keduanya lebih tidak masuk akal lagi. Adanya tudingan aktor intelektual yang terkait di dalamnya. Apakah mungkin kubu petahana, mau melakukan kegiatan semacam itu? Apakah mungkin sang kubu petahana, mau melakukan aksi provokasi dengan tindakan seperti itu?
Yang lebih mungkin, adalah ketika para pelaku aksi damai yang menyatakan bahwa ada aktor intelektual dibelakangnya, bahwa mereka sendirilah yang melakukannya. Melakukan infiltrasi kepada kubu NU, supaya mereka bertindak ceroboh seperti itu. Kemudian dengan settingan yang mantap supaya aksinya kelihatan normal dan alamiah, ditambah lagi dengan bumbu-bumbu nyanyian-nyanyian NU yang dinyanyikan.
Padahal sudah jelas, 3 orang pelaku sudah ditangkap. Dan sudah dinyatakan sebagai tersangka. Sehingga tuntutan kedua ini, bisa jadi tuntutan ngeyel dan menghayal.
Jadi apakah aksi kali ini, demi Bo-San atau demi Kalimat Tauhid yang katanya dibakar? Atau demi dua-duanya?
Sumber : Seword.com

comment 0 komentar:
more_vertsentiment_satisfied Emoticon