Juru Bicara PBN Prabowo-Sandi, Dibungkam Petani, Dipermalukan Orang Malaysia
Kebencian. Iya, kebencian, kalau sudah bercokol dalam hati, maka kebaikan apa pun dalam diri orang yang dibenci tidak akan dihargai. Atau kalau pun mengakui kebaikannya, akan tetap menutupinya dengan cara mencari keburukan yang lain. Hanya satu tujuannya, yaitu agar orang yang dibenci tidak mendapat penghargaan dari orang lain.
Sepertinya itulah yang terjadi dalam diri Faldo saat ini. Dia membenci Jokowi sedemikian rupa sampai tidak ada kebaikan pun yang pantas dihargai dalam kepemimpinan Jokowi. Atau mengakui kebaikan infrastruktur, tetapi menutupinya dengan cara melemahkan pencapaian infrastruktur dengan ekspor yang tidak meningkat tajam. Lihat, dia mengaburkan sisi baik infrastruktur dengan stagnannya ekspor. Kurang ajar bukan?
Tidak tanggung-tanggung, seorang petani dari Sulawesi Selatan membungkam Faldo. Petani tersebut menunjukkan betapa infrastruktur sangat mereka butuhkan. Katanya, sekarang mereka sudah bisa mendistribusikan hasil pertanian sampai ke Papua. Mereka juga sedang menunggu proses pembangunan infrastruktur jalan raya menuju tempat pertanian mereka agar proses distribusi berjalan lancar.
Tidak seperti yang ada dalam pikiran Faldo bahwa karena ekspor tidak meningkat tajam, maka infrastruktur tidak terlalu urgen. Mungkin karena dipikiran Faldo, infrastruktur itu hanya toll saja. Maklum dia tinggal di kota dan kuliah di Inggris, dia tidak merasakan bagaimana pentingnya infrastruktur bagi petani lokal kecil yang justru menyumbang hasil pertanian untuk kebutuhan lokal.
Kalau petani tadi membungkam Faldo, kali ini orang Malaysia yang mempermalukan Faldo. Masih mengomentari soal infrastruktur versus produksi. Dia mengatakan pemerintah lalai dalam mengelola anggaran karena mengalokasikan anggaran tidak seimbang sehingga mengakibatkan produktivitas di sektor perkebunan sawit tidak bisa digenjot. Akibatnya, Indonesia tetap tidak mampu melampaui pencapaian produksi sawit Malaysia, yang seharusnya sudah terlampaui.
Setuju! sama pentingnya seperti menggenjot produktivitas sawit. Ini yg abai pemerintah, sawit fund dihabiskan untuk hal lain, harusnya kita udah kalahkan Malaysia. Anggaran tidak diberikan pada produksi secara proporsional.
Bukan petani lagi, melainkan orang Malaysia sendirilah yang menjawab Faldo. Menurut orang Malaysia tersebut ekonomi Indonesia lebih bagus dibandingkan Malaysia. Dia juga memuji pemerintahan Jokowi. Dan menurut pengamatannya, justru Faldo-lah yang tidak mau mengakui hasil kerja Jokowi dan pemerintahannya.
Setuju! sama pentingnya seperti menggenjot produktivitas sawit. Ini yg abai pemerintah, sawit fund dihabiskan untuk hal lain, harusnya kita udah kalahkan Malaysia. Anggaran tidak diberikan pada produksi secara proporsional.
Inikan jadi aneh, ya. Orang Indonesia sendiri tidak mengakui keberhasilan Jokowi dan hasil kerjanya. Padahal capaian Jokowi itu ada di depan matanya, dia gunakan dan dinikmati rakyat, tetapi tetap saja tidak mengakui. Sementara orang Malaysia melihat dan mengakui prestasi Jokowi. Kenapa bisa begitu?
Karena kebencian dan kepentingan politik. Kebencian akan menutup mata hati untuk mengungkapkan kebenaran dan mengakui kemampuan orang lain. Kepentingan politik akan memaksa untuk menjungkalkan lawan bagaiaman pun caranya, sekalipun harus menanggung malu.
Mengenai pujian asing ini, kampret biasanya akan menyadur pernyataan Soekarno: *"Ingatlah, ingatlah, ingat pesanku lagi: ‘Jika engkau mencari pemimpin carilah yang dibenci, ditakuti atau dicaci maki asing karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing itu dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu!”* (Ir. Soekarno)
Mereka tidak paham konteks pernyataan Soekarno. Soekarno tidak mengajak rakyat untuk membenci pemimpinnya. Pun konteks pernyataan Soekarno adalah terkait pemimpin yang belum terpilih, bukan yang sudah terpilih dan berhasil bekerja. Salahlah Soekarno jika yang dimaksud itu adalah pemimpin yang sudah berhasil bekerja untuk negeri tetap dicaci maki oleh rakyatnya sendiri. Bukan itu maksud Soekarno.
Betapa malunya Faldo dilihat orang asing sebagai rakyat yang tidak tahu diri, yang tidak mengakui hasil kerja keras presidennya. Orang asing itu tidak ada kepentingan terhadap Jokowi. Mereka rakyat biasa seperti saya rakyat jelata ini. Maka pernyataan Soekarno di atas tidak relevan dalam kondisi ini.
Tetapi kita tahulah, Faldo berada di kubu lawan politik Jokowi, yang selama ini melihat Jokowi serba salah. Karena sangat berbahaya kalau Faldo tidak mengaburkan hasil kerja Jokowi, bossnya pasti kalah telak. Bagaimana tidak kalah telak, Prabowo yang nir-prestasi dihadapkan dengan Jokowi yang berlimpah prestasi, ya gak seimbang. Kalau mau dibandingkan seperti langit (Jokowi) dan sumur (Prabowo).
Sumber : Seword

comment 0 komentar:
more_vertsentiment_satisfied Emoticon